PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENYUSUN KARANGAN BERBAGAI TOPIK SEDERHANA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SISWA KELAS IV SEMESTER II SEKOLAH DASAR NEGERI 2 PONCOREJO KABUPATEN KENDAL TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Muhhamad Aris Widodo NIM

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENYUSUN KARANGAN BERBAGAI TOPIK SEDERHANA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SISWA KELAS IV SEMESTER II SEKOLAH DASAR NEGERI 2 PONCOREJO KABUPATEN KENDAL TAHUN PELAJARAN 2017/2018 Muhhamad Aris Widodo NIM

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MENYUSUN KARANGAN BERBAGAI TOPIK SEDERHANA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF SISWA KELAS IV SEMESTER II SEKOLAH DASAR NEGERI 2 PONCOREJO KABUPATEN KENDAL TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Muhhamad Aris Widodo
NIM. 825125516
Email : [email protected]
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh peneliti, observer, dan subjek yang diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar menyusun karangan dengan berbagai topik sederhana melalui model pembelajaran kooperatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 2 Poncorejo Kabuaten Kendal yang terdiri dari 31 siswa.Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018.Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, siklus I dan siklus II yang terdiri dari empat tindakan utama yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil dari observasi bahwa nilai rata – rata pada prasiklus hanya mencapai ketuntasan 35,48%, siklus I mencapai ketuntasan 54,83 % dan pada siklus II nilai rata – rata yang mencapai ketuntasan 90,32 % . Kesimpulan yang didapat bahwa penerapan model pembelajaran koorperatif dapat meningkatkan hasil belajar menyusun karangan berbagai topik sederhana siswa kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 2 Poncorejo Kabupaten Kendal. Selain itu model pembelajaran ini dapat meningkatkan partisipasi serta aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.

Kata Kunci : menyusun karangan, hasil belajar, kooperatif.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan salah satu landasan yang menentukan keberhasilan suatu keberhasilan dalam pendidikan. Siswa sebagai peserta didik dapat dikatakan berhasil dalam pembelajaran jika mampu memenuhu target yang ditentukan. Guru atau tenaga pendidik adalah salah satu pemegang peranan yang sangat penting agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran. Guru dituntut menjdi pemeran ganda, guru harus mampu mengajar dengan baik dan harus menjadi contoh untuk peserta didik, untuk itu guru wajib memiliki kompetensi keahlian tertentu.

Berdasarkan hasil evaluasi pada Pra Siklus mata pelajaran Bahasa Indonesia tentang materi menyusun karangan dengan berbagai topik sederhana Dari 31 orang siswa, hanya ada 10 orang siswa yang mampu menguasai materi pelajaran, 19 orang siswa tidak mampu menguasai materi, 2 orang siswa tidak masuk sekolah. Pelaksanaan pembelajaran yang penulis lakukan inipun dapat dikatakan belum berhasil.Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal tersebut, penulis mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan.Dan dari hasil observasi dan diskusi dengan supervisor 2 diperoleh beberapa masalah yang muncul selama pelaksanaan berlangsung yang perlu di identifikasi. Adapun permasalahan tersebut, yaitu: (1). Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, (2). Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dengan tepat, (3). Siswa tidak mau bertanya tentang hal yang kurang dipahami, (4). Aktifitas siswa tidak aktif, (5). Hasil evaluasi tidak mencapai target yang diharapkan, (6). Guru tidak menggunakan Pembelajaran Kooperatif, (7). Siswa kurang aktif dalam kegiatan tanya jawab. (8). Siswa tidak memahami penjelasan guru, (9). Siswa tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan guru ke seluruh kelas, (10).Hasil evaluasi tidak mencapai target yang ditentukan.Analisis Masalah
Dari identifikasi masalah pada pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menyusun karangan dengan berbagai topik sederhana, penulis menganalisa serta merumuskan masalah yang terjadi. Adapun analisa masalah yang ditemukan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : (1). Penjelasan guru terlalu abstrak, (2). Guru kurang memberikan contoh dan kurang melibatkan siswa, (3). Pembelajaran berpusat pada guru, (4). Aktifitas  belajar siswa rendah, (5). Guru kurang memotivasi siswa, (6). Siswa jarang membaca pelajaran Bahasa Indonesia, (7). Guru tidak memberi kesempatan bertanya kepada siswa, (8). Tidak menggunakan Pembelajaran Kooperatif, (9). Pembelajaran berpusat pada guru, (10). Siswa kurang tertarik dengan penjelasan guru, (11).Kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung, (12).Guru kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Belajar dikatakan tuntas bila siswa telah mencapai  hasil Belajar sama atau lebih besar dari nilai KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) yang telah ditetapkan oleh SDN 2 Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah yaitu untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia  75  , sedangkan berdasarkan aspek ketuntasan belajar secara klasikal ketuntasan belajar tercapai yaitu ? 80 % memperoleh skor ? 65 dari skor total dengan demikian jika dilihat dari ketuntasan belajarpun hasilnya masih rendah. Hasil analisa dari  masalah tersebut dapat di jelaskan secara umum adalah sebagai berikut : (1). Belajar siswa belum bermakna ( Meaningfull Learning ), (2). Siswa masih belajar menghapal ( Rote Learning ), (3). Siswa masih takut bertanya karena guru lebih dominan menggunakan Metoda ceramah. Rendahnya nilai hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SDN 2 Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal dikarenakan siswa dalam belajarnya kurang bermakna oleh karena itu dalam perbaikan ini diupayakan untuk meningkatkan hal tersebut melalui suatu penerapan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif dalam pembelajaran, sangat penting peranannya, terutama untuk membantu siswa memahami kondisi yang nyata sehingga mudah mengerti terhadap materi pembelajaran yang sedang dipelajari. Dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif , maka dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami Konsep Bahasa Indonesia , mengaitkan dan menerapkan serta dapat mengembangkan sejumlah keterampilan proses, terutama dalam merencanakan, melaksanakan dan mengkomunikasikan hasilnya.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah pada bagian pendahuluan diatas maka perumusan masalah dari Perbaikan pembelajaran bahasa indonesiaini  adalah :
Seberapa besar peningkatan hasil belajar menyusun karangan dengan berbagai topik setelah digunakannya model Pembelajaran Kooperatif  padasiswa kelas IV semester II Tahun Pelajaran 2017/2018 SDN 2 Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal ?
Bagaimana penerapan model Pembelajaran Kooperatif   untuk Meningkatkan Aktifitas Dan Hasil Belajar menyusun karangan dengan berbagai topik pada siswa  kelas IV semester II Tahun Pelajaran 2017/2018 SDN 2 Poncorejo Kecamatan GemuhKabupaten Kendal?
Tujuan  Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan perbaikan tindakan ini adalah sebagai berikut :Untuk mengetahui apakah Pembelajaran Kooperatif   dapat meningkatkan hasil belajar  menyusun karangan dengan berrbagai topik pada siswa kelas IV semester II Tahun Pelajaran 2017/2018 SDN 2 Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal.

Untuk mengetahui bagaimana Pembelajaran Kooperatif   dapat meningkatkan hasil belajar  menyusun karangan dengan berrbagai topik pada siswa kelas IV semester II Tahun Pelajaran 2017/2018 SDN 2 Poncorejo Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal.

Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil dari perbaikan ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak, bagi Sekolah kegunaan penelitian ini adalah untuk memberikan masukan dian menjadi bahan pertimbangan Sekolah untuk memperbaiki dan mengembangkan pelaksanaan pembelajaran di dalam manajemen Sekolah.Bagi penulis, diharapkan dengan melakukan penelitian ini dapat mengetahui perbandingan antara teori yang ada dalam materi perkuliahan dengan kenyataan dan praktik yang terjadi di Sekolah, serta untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan.

B. KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan masyarakat Indonesia sebagai alat komunikasi dan pemersatu bangsa.Peranan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial emosional peserta didik adalah bahasa yang merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari bidang ilmu.Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah.Maka mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD karena dari situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan berbahasa.Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Permendiknas No. 22 Tahun 2006, Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. 
Pelajaran bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah dasar sejak kelas 1 SD. Mata pelajaran bahasa Indonesia diberikan disemua jenjang pendidikan formal. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada hakikat pembelajaran bahasa yaitu belajar bahasa (belajar berkomunikasi) dan belajar sastra (belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia (Hartati, 2003).

Karangan
Pengertian karangan
Pada umumnya, karangan dipandang sebagai suatu perbuatan ataukegiatan komunikatif antara penulis dan pembaca berdasarkan teks yang telah dihasilkan (Ahmadi, 1988: 20).Begitu juga istilah karangan (komposisi) yang dikemukakan Ahmadi (1990: 1) bahwa karangan diartikan sebagai rangkaian katakata atau kalimat.Selain itu, karangan menurut Gie (1995: 17) memiliki pengertian hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapatdibaca dan dimengerti oleh pembaca.Sirait, dkk (1985: 1) memberi batasan pengertian karangan yaitu setiap tulisan yang diorganisasikan yang mengandung isi dan ditulis untuk suatu tujuan tertentu biasanya berupa tugas di kelas.Widyamartaya (1990) mengatakan bahwa mengarang dapat dipahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami dengan tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang.

Karangan merupakan suatu proses menyusun, mencatat, dan mengkomunikasikan makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan suatu sistem tanda konvensional yang dapat dilihat.
Kerangka Karangan
Kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap (Keraf, 1994: 149). Pada dasarnya, untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk karangan itu menjadi karangan yang teratur dan sistematis.Maka, sebelum membuat karangan lebih baik dibuat susunan-susunan yang dapat memudahkan dalam mengembangkan karangan tersebut.Susunan-susunan tersebut dapat dikatakan sebagai kerangka karangan.Adapun langkah-langkah untuk menyusun karangan tersebut, yaitu sebagai berikut.Menentukan tema dan judul
Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan, cakupannya lebih besar dan menyangkut padapermasalahan yang diangkat. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalahkepala karangan, dan lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang akan ditulis.

Mengumpulkan bahan
Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalammenunjukkan eksistensi tulisan seperti mengumpulkan ide dan inovasi. Banyakcara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara sesuai dengantujuan penulisannya.

Menyeleksi bahan
Setelah ada bahan maka perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan.Polanya melalui klarifikasi bahan yang telah dikumpulkandengan teliti dan sistematis.Membuat kerangka karangan
Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur. Kerangka karangan belum tentusama dengan daftar isi atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecilyang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yangsempurna.Berikut fungsi kerangka karangan:
Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis
Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan
Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting
Tahapan dalam menyusun kerangka karangan:
Mencatat gagasan
Mengatur urutan gagasan
Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
Mengembangkan kerangka karangan
Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Secara umum istilah model diartikan sebagai rangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Menurut Briggs dalam Gustini, (2003 : 16 ) model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses. Dengan kata lain model pembelajaran adalah suatu pola yang terdiri atas seperangkat prosedur  atau rangkaian kegiatan yang berisi strategi, Pembelajaran, pengorganisasian pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu, guna mewujudkan suatu pembelajaran atau proses belajar mengajaryang optimal.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berorientasi pada tim ( kelompok ). Menurut Suherman, (2001 : 260)  pembelajaran kooperatif adalah sutu pembelajaran yang siswanya belajar dan bekerja dalam kelompok-  kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompok yang heterogen.

PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas IV di SD Negeri 2 Poncorejo Kabupaten Kendal sebanyak 31 siswa yang terdiri dari 15 orang siswa perempuan dan 16 orang siswa laki-laki. Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilaksanakan dengan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan, sedangkan  perbaikan ini berlangsung kurang lebih sampai dengan  3  minggu yakni prasiklus tanggal 06 April 2018,siklus 1 tanggal 13 April 2018 dan siklus 2 tanggal 26 april 2018.

Di SD Negeri 2 Poncorejo Kabupaten Kendal terdapat siswa yang memiliki karakteristik khusus, yaitu berinisial MWM yang memiliki daya tangkap belajar rendah, dia kesulitan dalam menulis dan membaca. Dalam hal membaca, dia masih baru mengeja huruf sehingga pada saat mengerjakan soal lebih lama dari teman-temannya.Tempat Penelitian
Tempat Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 2 Poncorejo yang berada di Jalan Utama Poncorejo Gemuh Kecamatan Gemuh Kabupaten Kendal. Jarak antara jalan raya umum menuju sekolah cukup strategis, yaitu ± 300 meter dan jarak antara sekolah ke Kecamatan ± 500 meter. Sehingga dekat dengan keramaian.Waktu Penelitian
Berikut ini jadwal pelaksananaan perbaikan pembelajaran
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan PTK
No. Waktu Pelaksanaan Waktu Jenis Kegiatan
1. Jumat, 06 April 2018 09.30 – 11.00 Pelaksanaan Praktek Pembelajaran Pra siklus
2. Jumat, 13 April 2018 09.30 – 11.00 Pelaksanaan Praktek Perbaikan Pembelajaran siklus I
3. Kamis, 26 April 2018 07.30 – 09.00 Pelaksanaan Praktek Perbaikan Pembelajaran siklus II
 
Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Perbaikan ini merupakan perbaikan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) , ada pun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam perbaikan Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin. Model Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen ( h.18,2003 ) bahwa tahap tahap tersebut atau biasa disebut siklus ( Putaran ) terdiri dari empat komponen yang meliputi :
Perencanaan ( Planning )
Aksi / tindakan ( Acting )
Observasi ( Observing )
Refleksi ( Reflecting )
Prosedur Pelaksanaan Perbaikan  ini meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari Perencanaan tindakan Pengamatan, dan refleksi. Seperti pada table  dibawah ini.:
Tabel 3.2 Uraian Perbaikan Pembelajaran
Pra Siklus Perencanaan Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Menyusun lembar evaluasi
Menyusun lembar observasi
Tindakan Mengkondisikan kelas dengan   berdoa   dan mengabsen siswa.

Melakukan   apersepsi
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diperoleh siswa.

Menjelaskan materi
Mengadakan tanya jawab tentang   hal – hal   yang belum   diketahui siswa.

Menyimpulkan   materi   pembelajaran yang dilakukan siswa dengan bimbingan guru.

Mengadakan   evaluasi   akhir terhadap materi pelajaran   yang   telah disampaikan
Pengamatan Melakukan observasi dengan meng- gunakan format observasi
Refleksi Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah, dan waktu dari tindakan yang telah dilakukan
Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario, tes kemampuan pemahaman.

Memperbaiki  tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya
Siklus  I Perencanaan
Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam PBM yaitu dengan Pembelajaran Kooperatif.

Menentukan pokok bahasan.

Mengembangkan scenario Pembe- lajaran
Menyusun bahan ajar
Menyiapkan sumber belajar seperti buku
Mengembangkan format evaluasi
Mengembangkan format observasi pembelajaran
 
Tindakan Menerapkan tindakan mengacu pada scenario Pembelajaran Kooperatif  yang telah disiapkan
Melakukan evaluasi yaitu dalam bentuk tes kemampuan
Pengamatan Melakukan observasi dengan meng- gunakan format observasi
Refleksi Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah, dan waktu dari tindakan yang telah dilakukan
Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario, tes kemampuan pemahaman.

Memperbaiki  tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya
Evaluasi tindakan I
Siklus  II Perencanaan Identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah
Pengembangan program tindakan II
Tindakan Pelaksanaan program tindakan II
Pengamatan Pengumpulan data tindakan II
Refleksi Evaluasi tindakan II
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian teknik analisis data meliputi analisis secara kualitatif maupun kuantitatif.Data analisis secara kualitatif diuraikan dalam bentuk deskripsif yang diperoleh dari hasil wawancara dan gambar dokumentasi.Sedangkan data analis secara kuantitatif di uraikan dalam bentuk angka yang di peroleh dari penghitungan skor hasil evaluasi siswa serta pengamatan hasil kerja kelompok. Untuk data analisis secara kuantitatif dilakukan dengan penafsiran dan interprestasi dengan menggunakan kriteria sebagai berikut:
Nilai = x 10
Presentase = x 100
Rata-rata =
Tabel 3.3 Format Kriteria Penilaian Aktivitas Siswa
Produk ( hasil diskusi )
No. Aspek Kriteria Skor
1. Konsep * semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah 4
3
2
1
Performansi
No. Aspek Kriteria Skor
1.

2.

3. Pengetahuan
Praktek
Sikap * Pengetahuan
* kadang-kadang Pengetahuan
* tidak Pengetahuan
* aktif Praktek
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
* Sikap
* kadang-kadang Sikap
* tidak Sikap 4
2
1
4
2
1
4
2
1
Kriteria Nilai:
1 = Kurang                  3 = Baik
2 = Cukup                   4 = Sangat Baik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran.

Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah peneliti akan menguraikan secara singkat tentang langkah-langkah perbaikan pembelajaran yang telah direncanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdapat empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.Siklus I
Perencanaan
Sebagai acuan untuk membuat rencana perbaikan pembelajaran pada siklus I, peneliti melakukan identifikasi masalah dan perumusan masalah untuk acuannya. Hasil kajian data pembelajaran prasiklus diperoleh data 35,48% peserta didik yang tuntas dan 54,83% peserta didik belum tuntas.

Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 April 2018. Materi yang disajikan adalah menyusun karangan dengan berbagai topic sederhana dengan menggunakan tanda baca yang benar. Nilai yang diperolah dari siklus I mengalami kenaikan sebesar 19,35%, yaitu pada pra siklus sebesar 35,48% peserta didik yang mencapai Batas Ketuntasan Minimum meningkat menjadi 54,83% dari jumlah 31 siswa kelas IV.

Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus I diperoleh data diantaranya, Pengaturan kelas sudah bervariatif dan sesuai dengan materi yang di pelajari, Dalam proses pembelajaran pengorganisasian kelas sudah sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, belum menggunakan media yang cukup menarik peserta didik sehingga belum cukup untuk meningkatkan kreativitas anak dan keberanian untuk aktif bertanya, Dalam menerangkan materi, suara dan ekspresi guru sudah cukup baik, Guru sudah melakukan penilaian proses dan evaluasi sesuai kebutuhan,Guru perlu memberikan penekanan-penekanan terhadap materi tertentu yang dianggap penting. Sementara instrumen-instrumen yang digunakan dalam pengamatan ini antara lain : RPP siklus I, Lembar Kegiatan Peserta didik, lembar tes Formatif, analisa hasil tes formatif dan lembar observasi.

Refleksi
Setelah melaksanakan tindakan perbaikan siklus I tedapat peningkatan hasil belajar peserta didik dari 35,48% ketuntasan, setelah diadakan tindakan perbaikan pembelajaran menjadi 54,83%. Artinya naik sekitar 19,35%. Hal ini disebabkan beberapa kelebihan yang telah dilaksanakan oleh guru antara lain : Pengaturan kelas lebih bervariatif, Dalam pembelajaran guru sudah mengorganisasikan kelas dengan baik, Guru mampu menarik perhatian peserta didik terhadap materi yang dipelajari, Dalam melakukan pembelajaran, sebelumnya guru telah memberikan penjelasan singkat sehingga dalam kegiatan lebih terarah.

Dari temuan-temuan di atas peneliti perlu merancang tindakan dengan metode pembejalaran yang lebih bervariatif dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran siklus II yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 April 2018.

Siklus II
Perencanaan
Berdasarkan temuan pengamat tentang kelebihan dan kekurangan yang dilakukan peniliti dalam perbaikan pembelajaran siklus I, maka pada perbaikan pembelajaran siklus II perencanaan lebih diarahkan pada usaha dengan mengunnakan metode yang bervariatif serta menggunakan media gambar.
Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan pada tanggal 26 April 2018 atau satu minggu setelah pembelajaran siklus I dilaksanakan. Proses perbaikan pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan rencana dengan menitik beratkan pada metode yang bervariatif dan mengunakan media gambar sehingga dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Dari data hasil pembelajaran pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan penguasaan materi yang sangat memuaskan karena guru sudah bisa membuat peserta didik menjadi aktif untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami, sehingga terjadi keaktifan dalam pembelajaran didalam kelas.

Pengamatan
Setelah melakukan tindakan perbaikan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I yaitu 54,83% ketuntasan atau 17 siswa yang mencapai KKM dari jumlah 31 siswa, sekarang menjadi 90,32% atau 28 siswa yang sudah mencapai KKM, artinya naik sekitar 35,49%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor baik dari guru ataupun dari media yang digunakan, antara lain, Guru telah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran dengan cukup baik, dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dan penggunaan media gambar. Bahkan terlihat antusiasme yang besar dari siswa sehingga meningkatkan hasil belajar siswa. Pada kegiatan menyusun karangan, guru mampu memberi apresiasi yang baik sehingga meningkatkan kepercayaan diri siswa, Siswa yang awalnya malu kemudian termotivasi dan lebih aktif bertanya didalam kelas.Refleksi
Secara umum proses kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II sudah berjalan dengan baik, karena tingkat ketuntasan peserta didik sudah memenuhi kritera yang ditetapkan.
Berdasarkan data hasil penelitian diatas, di dapatkan bahwa semua aspek yang diteliti mengalami peningkatan. Terutama hasil belajar menyusun karangan dengan berbagai topic sederhana melalui penerapan model pembelajaran kooperatif. Dari penelitian 2 siklus didapatkan bahwa hasilnya sudah mencapai target yang telah ditentukan dalam indicator keberhasilan penelitian yaitu 90,32% dari jumlah siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini. Karenanya penelitian tidak dilanjutkan ke siklus selanjutnya karena penelitian sudah berhasil. Simpulan dan Saran
Simpulan
Penerapan model pembelajaran kooperatif pada pembelajaran menyusun karangan dengan berbagai topic sederhana dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar, maka sekolah yang memiliki karakteristik yang sama dengan kelas penelitian berlangsung, dapat menerapkan strategi pembelajaran serupa untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar siswa.

Saran
Berdasarkan hasil tindakan atau perbaikan , maka metode pembelajaran  dengan menggunakan Pembelajaran Kooperatif layak dipertimbangkan untuk dipergunakan guru, terutama pada pelajaran  Bahasa Indonesia khususnya pada materi menyusun karangan dengan berbagai topik sederhana bagi siswa kelas IV, khususnya di SD Negeri 2 Poncorejo Kabupaten Kendal.

Metode pembelajaran  Kooperatif , jika didesain akan memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan hasil Belajar. Untuk itu agar hasilnya lebih optimal, diperlukan langkah-langkah yang lebih kreatif lagi.Daftar Pustaka 
Dikdasmen (2003) Penelitian Tindakan Kelas .Jakarta, Direkorat Jendral Pendidikan Dasar Dan Menengah,Direktorat Tenaga Kependidikan
Dinn Wahyudin; D. Supriadi; Ishak.A.(2004) Pengantar Pendidikan.Jakarta: Universitas Terbuka.

Suciati,dkk. (2005). Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, Siti Julaeha dan Ngadi Marsinah. (2004).Pemantapan Kemampuan Profesional (Panduan). Jakrarta: Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, Wiharti, K; dan Nasoetion, N. (2004).Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Universitas Terbuka.

Lie, A ( 2007 ). Cooperatif Learning ( Mempraktekan Cooperatif Learning Di Ruang – Ruang Kelas ). Jakarta. PT Grassindo.

x

Hi!
I'm Alfred!

We can help in obtaining an essay which suits your individual requirements. What do you think?

Check it out