b

b

b. Ruang Lingkup dan Area Kerja Project Badan / Veronica Gunawan – 1901471521
Program kerja dari UNESCO ada di berbagai bidang seperti di bidang: pendidikan, pengetahuan, sosial, kebudayaan, komunikasi dan informasi. Kelompok kami mengambil spesifik program dibidang kebudayaan yaitu program UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Program UCCN diusulkan pada tahun 2004 yang dilakukan oleh UNESCO di seluruh dunia dengan bekerjasama dengan banyak negara.
Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan kerjasama dengan kota-kota yang memiliki kreativitas dan industri budaya untuk pembangunan perkotaan secara berkelanjutan dan dapat bekerja sama dengan aktif di tingkat internasional. Hal ini dilakukan oleh UNESCO untuk mendorong kerjasama internasional dengan antar kota, dengan memanfaatkan kreativitas untuk pembangunan berkelanjutan, semangat sosial dan keragaman budaya. CITATION Pra17 l 1057 (Prayudi, NinikProbosari, Kartika AyuArdhanariswari, 2017)Pelaksanaan program kerja UCCN ditujukan pada Kota Kreatif dengan seluruh mitra UNESCO. Untuk mempromosikan UCCN dilakukan melalui forum yang dilaksanakan, yang bertujuan untuk melakukan brainstorming peran kreativitas untuk pendorong pembangunan berkelanjutan kota dan inovasi menuju integrasi budaya dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. CITATION UNEnd2 l 1057 (UNESCO, 2016)Cara kerja dari UCCN adalah dengan bekerja pada 3 level, yaitu adanya CITATION UNEnd2 l 1057 (UNESCO, 2016):
Sekretariat UNESCO: bertanggung jawab atas manajemen dan strategi global.
7 sub-jaringan: sesuai dengan 7 bidang kreatif dari UNESCO, yaitu: kerajinan & seni rakyat, desain, film, gastronomi, sastra, musik, dan seni media. 7 sub-jaringan ini adalah aktor lapangan untuk memantau kemajuan yang dibuat oleh Kota Kreatif yang masuk dalam daftar UNESCO.
Kelompok pengarah: untuk mengordinasi sub-jaringan yang bekerjasama dengan sekretariat.
Untuk Kota Kreatif yang akan ditunjuk oleh UNESCO ada beberapa peraturan untuk bergabung dengan jaringan, yaitu: kota-kota harus mengajukan permohonan yang menunjukkan kesediaan, komitmen, dan kapasitas mereka untuk berkontribusi pada tujuan Jaringan. Dimana, kota-kota diharuskan memiliki rencana hingga proyek-proyek khusus untuk bergerak pada pembangunan kota yang berkelanjutan. CITATION UNEnd2 l 1057 (UNESCO, 2016)Dalam pelaksanaannya dan operasional dari program UCCN adanya CITATION UNEnd2 l 1057 (UNESCO, 2016):
Pertemuan tahunan Jaringan Kota Kreatif untuk memperkuat hubungan antar kota, yang memiliki tujuan untuk pertukaran informasi terbaru tentang kegiatan yan dilakukan dan menetukan strategi serta operasi jaringan untuk perkembangan masa depan.
Laporan monitoring keanggotaan yang berfungsi sebagai laporan pemantauan keanggotaan yang meliputi: penunjukan komitmen terhadap implementasi Misi dari UCCN, memperbaharui komitmen melalui penyajian rencana kasi, memberikan dampak wawasan ke dalam, dan mendorong pengembangan penelitian tentang konsep dan pengalaman Kota-Kota Kreatif.
Ruang lingkup program kerja UCCN ada pada 7 bidang kreatif dari UNESCO, yaitu: kerajinan & seni rakyat, desain, film, gastronomi, sastra, musik, dan seni media. Program kerja UCCN mencakup 180 Kota Kreatif dari 72 negara diseluruh dunia CITATION UNEnd4 l 1057 (Network, n.d.). Yang sudah ditunjuk oleh UNESCO sebagai Kota Kreatif dalam 7 bidang adalah: Adelaide, Al-Ahsa, Aswan, Austin, Baghdad, Bamiyan, Bandung, Barcelona, Beijing, Belém, Bergen, Berlin, Bilbao, Bitola, Bogota, Bologna, Bradford, Brazzaville, Budapest, Buenos Aires, Burgos, Busan, Chengdu, Curitiba, Dakar, Dénia, Detroit, Dublin, Dundee, Dunedin, Durán, Edinburgh, Enghien-les-Bains, Ensenada, Fabriano, Florianópolis, Galway, Gaziantep, Ghent, Glasgow, Granada, Graz, Gwangju, Hamamatsu, Hangzhou, Hanover, Heidelberg, Helsinki, Icheon, Idanha-a-Nova, Iowa City, Isfahan, Jacmel, Jaipur, Jeonju, Jingdezhen, Kanazawa, Katowice, Kaunas, Kingston, Kinshasa, Kobe, Krakow, Linz, Liverpool, Ljubljana, Lubumbashi, Lviv, Lyon, Mannheim, Medellín, Melbourne, Montevideo, Montréal, Nagoya, Nassau, Norwich, Nottingham, Óbidos, Östersund, Paducah, Parma, Pekalongan, Phuket, Popayán, Prague, Puebla, Rasht, Reykjavík, Rome, Saint-Étienne, Salvador, San Cristóbal de las Casas, Santa Fe, Santos, Sapporo, Sasayama, Seoul, Sevilla, Shanghai, Shenzhen, Shunde, Singapore, Sofia, Suzhou, Sydney, Tartu, Tel AvivYafo, Tongyeong, Tsuruoka, Tucson, Torino, Ulyanovsk, Varanasi, York, Zahlé. CITATION UNEnd2 l 1057 (UNESCO, 2016)
Dalam bidang desain ada 31 kota dari berbagai negara, salah satunya adalah Kota Bandung dari Indonesia. Program UCCN masuk di Indonesia pada saat program ini dibahas secara terbuka di 3rd Asia Europe Art Camp 2005 dan Artepolis Conference 2006 yang diadakan di Bandung. Akan hal ini, adanya pembentukan Bandung Creative City Forum (BCCF) dibentuk pada tahun 2007, Bali Creative Power dan Solo Creative City Network (SCCN) dibentuk pada tahun 2008. Dengan implementasi dari program UCCN yang bekerjasama dengan kota-kota untuk pembangunan perkotaan berkelanjutan. Hal ini menjadi salah satu pendorong ekonomi kota dengan memikat daya pariwisata di beberapa kota di Indonesia, khusunya Bandung. Untuk Indonesia sendiri, program ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat industri kreatif dengan memanfaatkan kreativitas, keterampilan dan bakat individu. CITATION Pra17 l 1057 (Prayudi, NinikProbosari, Kartika AyuArdhanariswari, 2017)Program ini menjadi tren di Indonesia pada tahun 2007 dengan memasukan Bandung sebagai salah satu kota kreatif di Asia Timur dalam pertemuan forum di Yokohama, Jepang. Lalu pada tahun 2011, berdasarkan survei Channel News Asia dari Singapura, kota Bandung diakui sebagai salah satu Kota Kreatif di Asia Timur. Akan hal ini, Bandung terdaftar dalam UNESCO sebagai kota kreatif dan ditunjuk menjadi kota kretif di bidang desain pada bulan November 2015. CITATION Pra17 l 1057 (Prayudi, NinikProbosari, Kartika AyuArdhanariswari, 2017)Proses Bandung menjadi anggota UCCN sebagai Kota Desain adalah dilihat dari CITATION Pra17 l 1057 (Prayudi, NinikProbosari, Kartika AyuArdhanariswari, 2017):
Posisi letak geografis Bandung sebagai letak kota yang strategis secara ekonomi dikarenakan jarak yang relatif dekat dengan Jakarta (Ibukota Indonesia) dan dikelilingi kota-kota kecil yang kaya produsen bahan alam, industri, manufaktur, pengrajin, dan bentuk-bentuk lain tenaga terampil.
Populasi kota Bandung sebagai kota terbesar ke3 di Indonesia dengan populasi sekitar 2,5 juta orang.
Dari segi sejarah, sejak tahun 1930an, Bandung telah menjadi kota pusat distribusi untuk industri mode dunia, dan menjadi tujuan favorit bagi wisatawan untuk belanja dan kuliner. Oleh karena itu, situasi telah mendorong ekspresi kreativitas warga Bandung.
Bandung juga memiliki lebih dari 50 lembaga pendidikan tinggi, universitas dan pusat penelitian.

Bandung juga memiliki 68% penduduk berusia produktif yaitu di bawah usia 40 tahun.
Memiliki Ekosistem Ekonomi Kreatif, karena Bandung memiliki sumber daya manusia dengan keterampilan dan pengetahuan di industri kreatif, produk dan jasa di bidang kreatif, pasar dengan apresiasi tinggi terhadap karya seni, penelitian & platform pengembangan.

Dilihat dari beberapa variabel diatas, dapat dikatakan bahwa Bandung sebagai kota yang penuh energi orang muda yang diikuti dengan Bandung sebagai Kota Kreatif. Karena Bandung merupakan pusat inovatif untuk kreativitas dan kewirausahaan. Dimana, Bandung menjadi tuan rumah berbagai lokakarya, konferensi dan festival, pengembangan kreativitas, prototipe dan desain produk pada khususnya. Dan faktanya adalah 56% kegiatan ekonomi Bandung terkait dengan desain, fashion, desain grafis dan media digital yang telah menjadi 3 subsektor teratas dalam ekonomi kreatif lokal (UNESCO, n.d.). Oleh karena hal ini, Bandung ditunjuk sebagai Kota Kreatif Desain.
Projeknya UCCN di Bandung yang di tetapkan sebagai Kota Kreatif di bidang desain, yaitu dengan berdirinya program Bandung Creative City Forum (BCCF). BCCF dibuat untuk membina jaringan di antara kota-kota kreatif. Selain itu adanya pertemuan tahunan yang masuk dalam bentuk Konferensi yang merupakan sebagai platform untuk diskusi pembangunan kota yang berkelanjutan dan berbagi ide untuk meningkatkan keberlanjutan kota. Adanya Design Action di Bandung dilakukan dalam workshop, dalam hal ini Bandung berhadap untuk keterlibatan sipil dapat meningkatkan ruang publik inklusif dengan desain. (UNESCO, n.d.)
BCCF sebagai wadah untuk membuat dan berkolaborasi antar kelompok komunitas kreatif dari 14 kreatif sektor heterogen, seperti: arsitektur, fashion, desain, musik, film, dan lainnya. Yang dibentuk sebagai apresiasi dan inisiatif kota Bandung terhadap UNESCO untuk menjadi Kota Kreatif dan untuk pembangunan berkelanjutan. (UNESCO, n.d.)
BCCF sebagai pusat kolaborasi yang memfasilitasi pertukaran ide dan pengetahuan kreatif untuk mendorong inisiatif kewirausahaan dan mempromosikan sektor kreatif di Bandung. Program ini juga di dukung penuh oleh Pemerintah Kota Bandung untuk merangsang ekonomi kreatif dengan adanya Program Inovasi Percepatan Pembangunan Regional (PIPPK) dan sistem kredit Melati, guna untuk memberikan dukungan keuangan kepada para pelaku dan menginkubasi industri kreatif baru. Dan pada 2015, dibentuknya Bandung Creative Centre (BCC) untuk mendorong pertukaran pengalaman dan ide-ide kreatif di tingkat nasional dan internasional. Program-program ini juga mendapat apresiasi dari masyarakat sipil, sehingga program berjalan dengan baik. (UNESCO, n.d.)
Selama 5 tahun terakhir, BCCF telah mendukung dan mengorganisir berbagai inisiatif pengembangan sosial, bekerja dengan penduduk untuk mengembangkan daerah untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan fasilitas komunal. BCCF telah berhasil terhadap perubahan sosial dan lingkungan. Adanya lokakarya tahunan di Bandung yang disebut Design Action dilakukan dalam workshop untuk menghasilkan inovatif. Tujuan dari ini adalah untuk membuat prototipe untuk solusi potensial. Selain itu untuk mencapai kesetaraan sosial antara peserta perempuan dan pemuda. Dengan adanya program ini, pemerintah juga di dorong untuk melakukan perbaikan layanan dan fasilitas lingkungan untuk mencapai kelestarian lingkungan. CITATION UNE18 l 1057 (network, 2018)
Efektivitas UCCN di Indonesia sangatlah berpengaruh sehingga terbentuknya BCCF sebagai inisiatif individu dari Indonesia melalui Kota Bandung untuk menjadi Kota Kreatif di bidang Desain dan untuk pembangunan berkelanjutan. Dimana ada komitmen yang nyata dari Kota Bandung untuk menjadi Kota Kreatif yang ditunjuk UCCN. Sehingga lewat perantara BCCF dapat menjadikan Bandung sebagai kota kreatif dan masih berjalan hingga saat ini. Dengan adanya aksi-aksi yang dilakukan melalui forum, workshop, dan keterlibatan langsung untuk pembangunan berkelanjutan kota baik untuk kepentingan nasional dan internasional.
Bibliography
BIBLIOGRAPHY network, U. C. (2018, Juni 11). LAB.2030 | Design Action.bdg: Fostering the Creation of Innovative Ideas for Social Development. Dipetik Juli 7, 2018, dari en.unesco.org: https://en.unesco.org/creative-cities/events/lab2030-design-actionbdg-fostering-creation-innovative-ideas-social-development
Network, U. C. (n.d.). Creative Cities Network. Dipetik Juli 7, 2018, dari en.unesco.org: https://en.unesco.org/creative-cities/home
Prayudi, NinikProbosari, Kartika AyuArdhanariswari. (2017). Analysis of the Development of Bandung as Creative City . International Journal of Scientific & Engineering Research Volume 8, Issue 9, 1025-1030.

UNESCO. (2016). UNESCO Creative Cities Network. Dipetik Juli 7, 2018, dari en.unesco.org: https://en.unesco.org/creative-cities/sites/creative-cities/files/E%20UCCN%20leaflet.pdf
UNESCO. (n.d.). Bandung. Dipetik Juli 7, 2018, dari en.unesco.org: https://en.unesco.org/creative-cities/bandung

x

Hi!
I'm Alfred!

We can help in obtaining an essay which suits your individual requirements. What do you think?

Check it out